Wanita
dan Media
Berada
di Zaman yang informasi sangat cepat menyebar dan berkembang tapi dengan
sikap kritis yang kurang adalah bagaikan memasuki ruang gulita tanpa
memiliki sumber cahaya. Karnanya banyak yang jatuh, menabrak bahkan
tidak bisa membedakan mana musuh mana kawan. Maka berhati-hatilah
kepada orang yang mau mencoba menuntunmu, apakah Ia akan menuntunmu
kejalan yang benar atau kearah yang justru semakin jauh dari jalan
benar tanpa Kau sadari. Telah banyak orang atau kelompok yang menaruh
manifestasi negative mereka kedalam situasi seperti ini.
Salah
satunya ialah Manifestasi Westernisasi. Hasil dari letupan
westernisasi yang terjadi sekarang ini bukanlah sebuah kebetulan
melainkan hasil rangkaian yang dirangkai dengan cara yang cantik.
Targetnya adalah seluruh aspek dan lapisan masyarakat, terkhusus
wanita. Wanita adalah sosok yang sangat berpengaruh besar pada
masyarakat sekaligus mudah dipengaruhi. Maka dibutuhkan suatu alat
untuk membangun sebuah asumsi dan imajinasi yang dapat memobilisasi
masyarakat. Dan alat yang dipakai itu tidak lain adalah media massa
seperti TV dan yang lainnya.
Tidak
heran melihat Barat yang sangat rakus dalam menguasai media. Karna
sudah diakui, media adalah alat yang ampuh dalam mempromosikan suatu
citra.
Kalau
kita kembali pada 20 tahun silam, siapa wanita, ibu-ibu atau
anak-anak yang mau membeli celana lejing atau rok span dan yang
serupa lainnya? Barang-barang itu tidak laku karena pagar adat dan
norma yang ada menolaknya dan telah memagari mereka dari semua itu.
Namun
ambisi hegemoni yang mereka miliki rupanya sangat besar. Gerakan
westernisasi dimulai. Mereka membangun ideologi didalam media, dengan
tenaga yang cukup profesional, ideologi itu perlahan mulai diterima
oleh masyarakat.
Ideologi
itu adalah membuat gambaran yang sempurna terhadap barat. Kalau ini
sudah terbentuk maka keuntungan yang lain tinggal mengikutinya.
Jangankan yang baiknya, yang buruknya pun kalau itu datang dari barat
maka itu akan ikut diambil oleh masyarakat, Pokoknya tidak ada
kritisi pada barat.
Pesan-pesan
itu disampaikan dengan intensif lewat media. Peran media disini
memiliki efek yang tinggi dalam mempengaruhi masyarakat.
Dimunculkanlah issu emansipasi dan kesetaraan gender dengan
perspektif mereka, Dengan pembungkusan yang cukup cantik lagi-lagi
ideologi ini mulai diterima. Mulailah wanita direkatkan oleh media.
Barat
mulai menyebarkan ketakutan ditengah-tengah wanita dengan issu-issu
yang tidak termasuk kedalam kategori yang mendesak untuk dilakukan.
Dalam produk-produk kecantikan mereka, dapat dilihat pesan-pesan
anomali yang coba mereka sampaikan; tentang noda putih dirambut,
keberadaan bulu halus yang mengganggu, sampai rambut bercabang atau
apalah.
Ini
adalah ketakutan yang coba dibangun supaya barat dapat meraup
keuntungan darinya. Entah disadari atau tidak, tidak sedikit juga
sekarang wanita yang ikut menaruh saham didalamnya. Menjadi gambaran
sosok sempurna dalam dunia layar kaca. Diberikan sebutan beragam
nama; aktris, entertaiment, model atau apalah. Padahal esensinya
tidak berubah yaitu menjadi komoditi. Sehingga menjadi wanita yang
tidak difungsikan melainkan manjadi alat tarik pada suatu barang.
Makanya jangan heran ketika ada kontes untuk menjadi idola, mereka
begitu agresif.
Belum
lagi tayangan serial di televisi, yang diberika waktu tayang yang
panjang. Bahkan sampai yang tidak masuk akalpun ikut ditayangkan.
Rasanya semua dapat dengan mudah menjumpai yang seperti ini. Yang
digambarkan para remaja tengah menjadi siswa di sekolah. Tapi apa
disitu mereka ingin menyampaikan tentang akhlak mulia atau menggugah
para pelajar kita untuk berprestasi disekolah? Jawabannya Tidak,
mereka mengajari pergaulan barat yang sudah ditranslansi sedemikian
rupa supaya lebih mengena pada masyarakat kita. Kontennya memang
suasana sekolah tapi konteks daripada filmnya adalah kebalikan dari
sekolah itu sendiri. Muatan-muatan yang berbau matrealistis terhampar
didalamnya. Dibangun inspirasi untuk membangun sebuah hubungan yang
romantisme sehingga terlihat lebih menjanjikan dari tujuan bersekolah
itu sendiri. Ditambah lagi dengan tayangan semi erotis yang mengumbar
tubuh dan mengajak kepada hawa nafsu. Ini mempunyai daya tikam yang
dahsyat pada otak anak-anak kita yang lugu, sehingga ketika tumbuh
semakin besar mereka tinggal melampiaskan apa-apa yang sudah
terkumpul dalam benak mereka, seperti melakukan penganiayaan,
kejahatan, dan tindak asulsila. Ditambah lagi dengan para penghuni
rumah yang ikut serta menonton, sebagai bentuk pembenaran atas apa
yang ada didalam tontonan. Karena, kesalahan yang diulang-ulang akan
dianggap benar. Coba lihat saja contohnya disekitarmu.
Dari
waktu ke waktu acara TV semakin propagandis dan mempunyai celah yang
sangat tipis untuk dillihat sebagai propagandis. Tentu semua ini
tidak mengenyampingkan sisi positif dari media itu sendiri dan yang
kita lihat sisi negative mengambil bagian yang dominan. Karena
didalam tayangannya banyak menciptakan perspektif yang rancu.
Diantaranya :
-
tentang hubungan seorang gadis dengan nilai tradisi, dimana Ia akan
menyamakan tempat dimanapun Ia berada seperti di barat,seperti;
menganggap legal membawa laki-laki yang tak dikenal kerumahnya. Lalu
mengecam semua yang tidak terima dan memberontak kepada masyarakat
yang melarang itu. Padahal masyarakat berusaha menjaga kesuciannya.
-
berpandangan bahwa syarat dari terbentuknya pernikahan hanyalah
kerelaan dari kedua pasangan -jangan terjebak oleh kata-kata diatas
meskipun terlihat benar-. Berarti jika ada yang sesama jenis atau
orang yang mempunyai hubungan sedarah atau yang lainnya asal keduanya
rela, berarti mereka berhak mendapatkan kartu nikah. Alangkah
tersiksanya apabila benar ada yang melakukannya, sudah tidak punya
keturunan dan menjadi olokan warga sepanjang hidupnya. Yang ini lebih
banyak disebar di media selain TV.
-
tidak mau punya anak, yang ini sudah ada contohnya pada seorang artis
perempuan dinegri ini. Entah karena takut dibilang ibu-ibu atau
apalah. Padalah kehadiran seorang anak adalah kebanggaan pada sebuah
keluarga dan yang menjadi penyejuk hati.
Efek
dari gerakan westernisasi perempuan lewat media bukanlah sekedar
kepentingan ekonomi tapi menyerang sisi pemikiran. Jika dibiarkan
akan terus merambat. Dan ini mengharuskan adanya sebuah konterisasi
dari kita. Yaitu:
-
potonglah sebanyak-banyaknya waktumu menonton TV dan fokuskan waktu
yang tersisa pada siaran yang penting dan produktif dengan proporsional.
-
menyadari betapa mulianya dirimu wahai wanita, karena ada contoh:
dalam sebuah majalah asing menceritakan bagaimana tersiksanya
model-model disana. Mereka dibebankan aturan-aturan yang tidak wajar,
disuruh menganjlokan berat tubuhnya, tidak boleh makan kecuali sangat
sedikit. Jika Kau tau nilai dari dirimu pasti Kau akan menjaga
sekuat-kuatnya.
-jika
ingin memulai sebuah keluarga pilihlah pasangan yang sangat baik,
yang mengerti mana yang baik dan yang buruk. Karena Dia yang akan
menumbuhkan seseorang yang perkasa dan baik dikemudian hari.
Anak
yang rusak InsyaAlloh masih bisa untuk ditangani, tapi apabila para
wanitanya yang rusak, Dia akan menumbuhkan generasi yang tidak jauh
berbeda dari dirinya atau jauh lebih rusak.



" />
Tidak ada komentar:
Posting Komentar