Rabu, 06 Mei 2015

Wanita dan Media | Edisi 2 tahun 1


Wanita dan Media

Berada di Zaman yang informasi sangat cepat menyebar dan berkembang tapi dengan sikap kritis yang kurang adalah bagaikan memasuki ruang gulita tanpa memiliki sumber cahaya. Karnanya banyak yang jatuh, menabrak bahkan tidak bisa membedakan mana musuh mana kawan. Maka berhati-hatilah kepada orang yang mau mencoba menuntunmu, apakah Ia akan menuntunmu kejalan yang benar atau kearah yang justru semakin jauh dari jalan benar tanpa Kau sadari. Telah banyak orang atau kelompok yang menaruh manifestasi negative mereka kedalam situasi seperti ini.

Salah satunya ialah Manifestasi Westernisasi. Hasil dari letupan westernisasi yang terjadi sekarang ini bukanlah sebuah kebetulan melainkan hasil rangkaian yang dirangkai dengan cara yang cantik. Targetnya adalah seluruh aspek dan lapisan masyarakat, terkhusus wanita. Wanita adalah sosok yang sangat berpengaruh besar pada masyarakat sekaligus mudah dipengaruhi. Maka dibutuhkan suatu alat untuk membangun sebuah asumsi dan imajinasi yang dapat memobilisasi masyarakat. Dan alat yang dipakai itu tidak lain adalah media massa seperti TV dan yang lainnya.

Tidak heran melihat Barat yang sangat rakus dalam menguasai media. Karna sudah diakui, media adalah alat yang ampuh dalam mempromosikan suatu citra.
Kalau kita kembali pada 20 tahun silam, siapa wanita, ibu-ibu atau anak-anak yang mau membeli celana lejing atau rok span dan yang serupa lainnya? Barang-barang itu tidak laku karena pagar adat dan norma yang ada menolaknya dan telah memagari mereka dari semua itu.
Namun ambisi hegemoni yang mereka miliki rupanya sangat besar. Gerakan westernisasi dimulai. Mereka membangun ideologi didalam media, dengan tenaga yang cukup profesional, ideologi itu perlahan mulai diterima oleh masyarakat.
Ideologi itu adalah membuat gambaran yang sempurna terhadap barat. Kalau ini sudah terbentuk maka keuntungan yang lain tinggal mengikutinya. Jangankan yang baiknya, yang buruknya pun kalau itu datang dari barat maka itu akan ikut diambil oleh masyarakat, Pokoknya tidak ada kritisi pada barat.
Pesan-pesan itu disampaikan dengan intensif lewat media. Peran media disini memiliki efek yang tinggi dalam mempengaruhi masyarakat. Dimunculkanlah issu emansipasi dan kesetaraan gender dengan perspektif mereka, Dengan pembungkusan yang cukup cantik lagi-lagi ideologi ini mulai diterima. Mulailah wanita direkatkan oleh media.

Barat mulai menyebarkan ketakutan ditengah-tengah wanita dengan issu-issu yang tidak termasuk kedalam kategori yang mendesak untuk dilakukan. Dalam produk-produk kecantikan mereka, dapat dilihat pesan-pesan anomali yang coba mereka sampaikan; tentang noda putih dirambut, keberadaan bulu halus yang mengganggu, sampai rambut bercabang atau apalah.
Ini adalah ketakutan yang coba dibangun supaya barat dapat meraup keuntungan darinya. Entah disadari atau tidak, tidak sedikit juga sekarang wanita yang ikut menaruh saham didalamnya. Menjadi gambaran sosok sempurna dalam dunia layar kaca. Diberikan sebutan beragam nama; aktris, entertaiment, model atau apalah. Padahal esensinya tidak berubah yaitu menjadi komoditi. Sehingga menjadi wanita yang tidak difungsikan melainkan manjadi alat tarik pada suatu barang. Makanya jangan heran ketika ada kontes untuk menjadi idola, mereka begitu agresif.

Belum lagi tayangan serial di televisi, yang diberika waktu tayang yang panjang. Bahkan sampai yang tidak masuk akalpun ikut ditayangkan. Rasanya semua dapat dengan mudah menjumpai yang seperti ini. Yang digambarkan para remaja tengah menjadi siswa di sekolah. Tapi apa disitu mereka ingin menyampaikan tentang akhlak mulia atau menggugah para pelajar kita untuk berprestasi disekolah? Jawabannya Tidak, mereka mengajari pergaulan barat yang sudah ditranslansi sedemikian rupa supaya lebih mengena pada masyarakat kita. Kontennya memang suasana sekolah tapi konteks daripada filmnya adalah kebalikan dari sekolah itu sendiri. Muatan-muatan yang berbau matrealistis terhampar didalamnya. Dibangun inspirasi untuk membangun sebuah hubungan yang romantisme sehingga terlihat lebih menjanjikan dari tujuan bersekolah itu sendiri. Ditambah lagi dengan tayangan semi erotis yang mengumbar tubuh dan mengajak kepada hawa nafsu. Ini mempunyai daya tikam yang dahsyat pada otak anak-anak kita yang lugu, sehingga ketika tumbuh semakin besar mereka tinggal melampiaskan apa-apa yang sudah terkumpul dalam benak mereka, seperti melakukan penganiayaan, kejahatan, dan tindak asulsila. Ditambah lagi dengan para penghuni rumah yang ikut serta menonton, sebagai bentuk pembenaran atas apa yang ada didalam tontonan. Karena, kesalahan yang diulang-ulang akan dianggap benar. Coba lihat saja contohnya disekitarmu.

Dari waktu ke waktu acara TV semakin propagandis dan mempunyai celah yang sangat tipis untuk dillihat sebagai propagandis. Tentu semua ini tidak mengenyampingkan sisi positif dari media itu sendiri dan yang kita lihat sisi negative mengambil bagian yang dominan. Karena didalam tayangannya banyak menciptakan perspektif yang rancu. Diantaranya :

- tentang hubungan seorang gadis dengan nilai tradisi, dimana Ia akan menyamakan tempat dimanapun Ia berada seperti di barat,seperti; menganggap legal membawa laki-laki yang tak dikenal kerumahnya. Lalu mengecam semua yang tidak terima dan memberontak kepada masyarakat yang melarang itu. Padahal masyarakat berusaha menjaga kesuciannya.

- berpandangan bahwa syarat dari terbentuknya pernikahan hanyalah kerelaan dari kedua pasangan -jangan terjebak oleh kata-kata diatas meskipun terlihat benar-. Berarti jika ada yang sesama jenis atau orang yang mempunyai hubungan sedarah atau yang lainnya asal keduanya rela, berarti mereka berhak mendapatkan kartu nikah. Alangkah tersiksanya apabila benar ada yang melakukannya, sudah tidak punya keturunan dan menjadi olokan warga sepanjang hidupnya. Yang ini lebih banyak disebar di media selain TV.

- tidak mau punya anak, yang ini sudah ada contohnya pada seorang artis perempuan dinegri ini. Entah karena takut dibilang ibu-ibu atau apalah. Padalah kehadiran seorang anak adalah kebanggaan pada sebuah keluarga dan yang menjadi penyejuk hati.



Efek dari gerakan westernisasi perempuan lewat media bukanlah sekedar kepentingan ekonomi tapi menyerang sisi pemikiran. Jika dibiarkan akan terus merambat. Dan ini mengharuskan adanya sebuah konterisasi dari kita. Yaitu:
- potonglah sebanyak-banyaknya waktumu menonton TV dan fokuskan waktu yang tersisa pada siaran yang penting dan produktif dengan proporsional.
- menyadari betapa mulianya dirimu wahai wanita, karena ada contoh: dalam sebuah majalah asing menceritakan bagaimana tersiksanya model-model disana. Mereka dibebankan aturan-aturan yang tidak wajar, disuruh menganjlokan berat tubuhnya, tidak boleh makan kecuali sangat sedikit. Jika Kau tau nilai dari dirimu pasti Kau akan menjaga sekuat-kuatnya.
-jika ingin memulai sebuah keluarga pilihlah pasangan yang sangat baik, yang mengerti mana yang baik dan yang buruk. Karena Dia yang akan menumbuhkan seseorang yang perkasa dan baik dikemudian hari.

Anak yang rusak InsyaAlloh masih bisa untuk ditangani, tapi apabila para wanitanya yang rusak, Dia akan menumbuhkan generasi yang tidak jauh berbeda dari dirinya atau jauh lebih rusak. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a

 photo aawawaw_zps0l5gj5mx.png" />