Ketika
berada dihalaman rumah, aku berharap ada sebuah pelajaran yang dapat
kuambil untuk dijadikan pembelajaran dalam hidupku. Aku pandangi tiap
sudut taman untuk mencari pembelajaran itu. Tiba-tiba mataku terarah pada
sebuah fenomena yang sebenarnya tidak asing bagi kita. Yaitu
sekelompok semut yang membawa suatu makanan. Dan aku mendekati
mereka. Kutatap fenomena itu dari dekat.
Aku
berharap sekali kepada Alloh agar memberiku pelajaran pada saat itu.
Karena tanpa dari-Nya pembelajaran yang bermanfaat tidak akan datang.
Lalu akhirnya Aku terfokus pada makanan yang dibawanya, Ku coba untuk
mengganggu mereka, -seperti kejadian lain dimana Aku meniup mereka
sehingga mereka berpencar-, tapi seketika itu mereka kembali bersatu
membawa makanannya. Lalu Aku mencoba lagi untuk menaruh benda yang
besar yang dapat menghalangi jalannya si semut, Aku ingin lihat
apakah mereka meninggalkan makanan yang dibawanya. Ternyata tidak sedikitpun
mereka melepaskan makanannya bahkan mereka berhasil menaklukan
rintangan itu. Lalu mereka melanjutkan perjalannya untuk sampai
ketujuannya. Mereka melalui tumpukan genteng yang ada dihalamanku,
setelah mereka berada di atas tumpukan itu ternyata makanan mereka
terjatuh kebawah. Lalu apa yang mereka lakukan? Ya mereka mengambil
kembali makanannya dan memasuki celah-celah genteng itu sampai Aku
tidak lagi melihatnya.
Ternyata
harapanku dikabul oleh Alloh. Kita dapat mengambil faidah hanya
dengan waktu yang singkat, seperti cerita demikian, diantaranya :
Pelajaran
pertama : Tidak takut dengan musibah.
semut
itu mengajariku bahwa jangan terfokus pada masalah yang datang.
Sebagaimana yang terjadi pada semut-semut itu ketika mereka berpencar
karena tipuanku, mereka tetap membawa makanannya seolah tidak
memperdulikan akan terjadi tiupan berikutnya.
Pelajaran
kedua : kompak dan mengutamankan urusan yang lebih besar.
Lalu
pelajaran kedua yang diberikan sang guru adalah ketika mereka kembali
bersatu setelah diterpa tiupan angin. Jika ini dibayangkan terjadi
pada sekumpulan manusia mungkin akan ada banyak perbedaan pendapat, yang
satu berpendapat tinggalkan saja makanannya, yang lainnya; jangan!
kita tunggu sekian lama dulu baru kita ambil lagi, dan yang lainnya;
jangan! Langsung saja kita bawa kembali. Dan perbedaan pendapat itu
semakin melarut sampai lupa akan urusan yang lebih penting.
Pelajaran
ketiga : percaya diri dan tidak meniggalkan masalah
semut
itu telah memberikan testimoni tentang penyelesaian terhadap masalah.
Bahwa ukuran tubuh bukanlah jaminan agar masalah dapat terselesaikan.
Lihatlah si semut ketika sedang membawa makanan yang berkali-kali
lipat dari besar tubuhnya kemudian dibentangkan masalah baru
didepannya yaitu sesuatu yang menghalangi jalannya untuk sampai pada
tujuannya. Yang mereka lakukan sungguh menakjubkan, mereka tidak
meniggalkan masalah mereka bahkan sekalipun didatangkan masalah yang
baru. Mereka menghadapinya dan akhirnya pun mereka berhasil
melewatinya.
Pelajaran
Keempat : tidak menganggap remeh segala sesuatu
ya,
tidak menganggap remeh segala sesuatu termasuk rizqi. Apakah ketika
makanan itu terjatuh lalu mereka berpikir bahwa gampang semua itu untuk untuk didapat lagi,
dengan jumlah mereka yang tidak sedikit lalu menganggap makanan
seperti itu mudah sekali untuk didapatkan. Tidak! Mereka hanya
percaya dengan yang ada dan tidak berangan-angan untuk mendapatkan
yang lebih. Inilah yang dibutuhkan manusia dizaman seperti sekarang,
dimana orang tidak puas dengan apa yang mereka punya karena melihat
punya orang lain yang lebih.
Inilah
jawaban atau lebih tepatnya bukti yang mengatakan bahwa tidak ada
yang diciptakan Rabb dengan sia-sia dan juga termasuk kisah si Semut.
Ada sebuah kata bijak yang setidaknya berhubungan dengan kisah tadi;
keju
itu tidak akan tercium bau wanginya kecuali setelah dipanasi
demikian
halnya cita-cita dan angan-angan kita, tidak akan tercapai sebelum
banyak merasakan pahit getirnya pengalaman.
Demikian
semut itu mengajariku.
" />
Tidak ada komentar:
Posting Komentar