Rabu, 06 Mei 2015

Manusia bodoh dan ponsel pintar | Edisi 2 tahun 1


Ketika kau membaca judul di atas mungkin jidatmu seketika mengkerut dan heran karna memang sedikit terdengar kasar. Tapi sayangnya Saya tidak memperdulikan itu karna ada sesuatu yang lebih penting dibalik itu.
Kau punya Smartphone? Kau sangat senang yah dapat memilikinya? Kau selalu menjaganya? Apa Kau juga memanjakannya? Asesoris apa yang ditambahkan padanya?

Berapa harganya?... Waw mahal sekali
Lihatlah ponselmu, sudah kau beli mahal-mahal tapi Kau harus beli anti gores, anti banting dan kesing bercorak untuk lebih mempercanti tampilannya.
Ceroboh sekali pembuat Handphone itu sampai lalai untuk membuat itu semua. Kau juga ikut membeli yang namanya “Tongkat narsis” supaya kegiatan berfoto ria mu lebih ideal. Berfoto dan berfoto sampai Kau merasa ada yang kurang dengan satu hal yaitu memajangnya di “dunia kedua”mu.

Apa! kau lupa? Ada yang kurang...
setelah semua itu masih ada yang kurang? Iya ada yang kurang...
kurang apa? Belum beli paket internet..

Yassalam... Kau pun mendownload semua jenis media sosial. Mulai dari twiternya, fesbuknya, WA, line, dan lain-lain. Setelah diUpload, Kau pun menunggu-nunggu, pikiranmu pun disibukkan oleh foto tadi supaya mendapat “Like” karna kau merasa sudah susah payah mengerjakannya.

Kenapa banyak sekali bermunculan media sosial baru? Apakah tidak cukup hanya satu ? Kenapa musti ada belasan media sosial padahal aktivitas didalamnya sama saja.
Kenapa harus Fesbuk dan lainnya yang mendapat perhatian lebih darimu dan orang-orang yang ada di dalamnya selalu menyibukanmu. Tak ada aktivitas lain bagimu yang lebih utama kecuali menutup pintu kamar dan mulai bermain dengan gejetmu. Kegiatan berfoto pun kembali Kau lakukan tatkala sendiri lalu seperti biasa, Kau Upload untuk Kau pajang dan Kau tunjukkan pada teman-teman khayalmu. Untuk apa?

Kau punya ratusan teman
Tapi Kau kesepian
Kau berbicara dengan mereka
Tapi tak seorangpun Kau kenal

Kau seperti membohongi dirimu sendiri
Kau ganti kehidupan riil dengan semi riil
Mengacuhkan ruang bebas yang terhampar dihadapanmu
dan Kau memilih menutup pintu lalu membuka laptop

Apa teman nyata sudah terlihat membosankan?
Setiap waktu Kau disibukkan untuk merangkai kata
Sampai terlihat hidupmu indah dimata mereka
Namun Kitapun tak tau apa mereka perduli

Tak ada yang bisa Kau lakukan
Kecuali menggerakkan jari ketas kebawah
Melihat aktivitas yang dilakukan orang lain
Atau menceritakan ratusan kejadian dalam hidupmu pada “mereka”
Bagaimana kita bisa memberikan bagian terbaik hidup kita tanpa menggunakan perasaan
Semua itu takkan berhenti sampai ada hajat yang membuatmu terpaksa berhenti
dan ketika tersadar, Kau berada dalam dunia yang membingungkan!

Perhatianlah pada temanmu, maka mereka akan perhatian padamu
Kunjungilah temanmu, jangan berdiskusi dengan mereka di chat
Karna mereka takkan mengunjungimu
Alihkanlah layar kaca dan tataplah lawan bicara

Aku tak tahan melihat kehenigan pada sebuah perkumpulan
Ada seseorang, diantara temannya hanya Dia yang tak memiliki smartphone
Tapi semua orang sibuk berbicara pada dunia digitalnya lewat ketikan
bunyi-bunyi balasan message pun terdengar riuh
Ia pun merasa kesepian, Ia segan ingin menegur dan bertanya
karna takut dianggap tidak sopan
memecahkan keheningan dan menghentikan laju jari jemari mereka

Hey...teknologi ada, untuk membantu bukan membatasi
Ilusi itu telah membuat dekat yang jauh, dan menjauhkan yang dekat

Saat masih sekolah SD dan SMP, Jam istirahat Aku tidak pernah dikelas
Hanya pada saat jam pelajaran saja berada dikelas
Begitu juga dengan teman-teman
Jika terpaksa berada dikelaspun kaki ini tak pernah diam dan mulutpun tak ternah diam
Karna saking sibuknya bercanda, berlarian dan menggoda teman yang lain
Tempat dudukku pun jarang Aku tempati
Karna Aku lebih suka duduk dibangku orang lain dan begitupun teman-temanku
Ketika berkumpul, kami banyak menciptakan permainan-permainan konyol dikelas. Meskipun begitu Kami tetap patuh pada guru-guru kami. Begitu juga saat jam istirahat, kami tidak pernah berpenampilan rapih ketika kembali ke kelas usai istirahat.

Tapi kini, apa yang disapa oleh anak-anak ketika menunggu guru yang belum datang?
Apa yg dikeluarkan pertaman kali dari kantong saku mereka ketika jam istirahat tiba?
Memang semua tidak begitu, tapi sadarkah yang tidak itu pun perlahan mengikuti?
Lihatlah orang tua-orang tua yang katanya modern
Mereka tidak bisa menghibur anak tanpa menggunakan iPad
Mereka pikir anak berdiam diri itu bagus

Ingatkah waktu kita kecil? Kita tak pernah diam dirumah
bersepeda, berlari sampai melakukan hal menyenangkan yang orang tua pikir itu berbahaya.
Sendalku copot, lututku lecet saking energiknya bermain. bahkan pernah sampai tercebur diselokan, tapi meskipun itu kita tak mudah menangis.
Hidup indah padahal tak ada keberadaan barang-barang mewah. Dengan ketangkasan kita, permainan dapat kita ciptakan dan dapatkan,

Namun kini gang-gang sepi dari keceriaan
Dan Aku juga tak tahan melihat kehenigan didalam angkutan umum
semua diam karna takut dibilang aneh jika bertegur sapa
hmm.. Individualis
Padalah sekitar 7 tahun lalu, orang tak segan menyapa orang lain didalam angkutan umum, bertanya-tanya “Dari mana de?, Mau mau kemana de?”. Begitulah seorang ibu menyapaku waktu itu, yang ternyata adalah saudaraku sendiri yang tidak pernah kukenal. Pada saat itu kami tengah menaiki angkutan Bogor. “Mau ke Jakarta bu, kerumah sodara?”, Jawaban dariku itu lantas melebarkan pertanyaan si Ibu selanjutnya, Merasa tinggal berada di Kota yang sama, Ibu itu merunut pertanyaannya sampai ke daerah mana yang Aku tinggali, setelah kujawab ternyata sama lagi daerah kami. “Jangan-jangan Dia tetangga nih disana, cuma beda gang saja” mungkin seperti itu Aku membaca pikiran si Ibu ketika itu. Dan bak mempunyai kecurigaan seperti itu, Dia bertanya “Siapa orang masjidnya disana?” maksudnya orang yang suka kemasjid pasti dikenal disana. Lalu Aku sebutkan nama kakekku, eh ternyata si Ibu dan suaminya tertawa dan bilang “Itu sodara Saya de”. Haha, ya itulah alhasil dari bertegur sapa.

Kau takkan menemukan semua itu jika terpaku pada dunia digital adalah hal yang tidak bisa Kau lepaskan. Memenjarakan diri dalam sebuah digital
Berhentilah selalu menundukkan kepala, selalu memusatkan perhatian pada apa yang ada digenggaman tanganmu
Janganlah hidup sendiri didepan umum, Kau akan banyak melewatkan waktu berharga
Bisa jadi Kau terhambat menemukan masa depanmu karenanya. Padahal Dia lewat didepanmu namun Kau tak menyadari karna selalu sibuk menundukkan kepala. Kau akan melewati berbagai kebahagiaan yang akan Kau lalui bersamanya. Disaat Kau ingin memulai sebuah keluarga.

Matikanlah layar dan buatlah hari yang indah
Karena dunia akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukannya
Waktu kita sangat terbatas
Bergabunglah dengan persahabatan yang riil, komunitas yang riil dan ambil ilmu sebanyak-banyaknya
Karna dunia yang kosmopolitan ini perlu ditaklukan olehmu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a

 photo aawawaw_zps0l5gj5mx.png" />