Ketika
kau membaca judul di atas mungkin jidatmu seketika mengkerut dan
heran karna memang sedikit terdengar kasar. Tapi sayangnya
Saya tidak memperdulikan itu karna ada sesuatu yang lebih penting
dibalik itu.
Kau
punya Smartphone?
Kau sangat senang yah dapat memilikinya? Kau selalu menjaganya? Apa
Kau juga memanjakannya? Asesoris apa yang ditambahkan padanya?
Berapa
harganya?... Waw mahal sekali
Lihatlah
ponselmu, sudah kau beli mahal-mahal tapi Kau harus beli anti gores,
anti banting dan kesing bercorak untuk lebih mempercanti tampilannya.
Ceroboh sekali pembuat Handphone itu sampai lalai untuk membuat itu
semua. Kau juga ikut membeli yang namanya “Tongkat narsis”
supaya kegiatan berfoto ria mu lebih ideal. Berfoto dan berfoto
sampai Kau merasa ada yang kurang dengan satu hal yaitu memajangnya
di “dunia kedua”mu.
Apa!
kau lupa? Ada yang kurang...
setelah
semua itu masih ada yang kurang? Iya ada yang kurang...
kurang
apa? Belum beli paket internet..
Yassalam...
Kau pun mendownload semua jenis media sosial. Mulai dari twiternya,
fesbuknya, WA, line, dan lain-lain. Setelah diUpload, Kau pun
menunggu-nunggu, pikiranmu pun disibukkan oleh foto tadi supaya
mendapat “Like” karna kau merasa sudah susah payah
mengerjakannya.
Kenapa
banyak sekali bermunculan media sosial baru? Apakah tidak cukup hanya
satu ? Kenapa musti ada belasan media sosial padahal aktivitas
didalamnya sama saja.
Kenapa
harus Fesbuk dan lainnya yang mendapat perhatian lebih darimu dan
orang-orang yang ada di dalamnya selalu menyibukanmu. Tak ada
aktivitas lain bagimu yang lebih utama kecuali menutup pintu kamar
dan mulai bermain dengan gejetmu. Kegiatan berfoto pun kembali Kau
lakukan tatkala sendiri lalu seperti biasa, Kau Upload untuk Kau
pajang dan Kau tunjukkan pada teman-teman khayalmu. Untuk apa?
Kau
punya ratusan teman
Tapi
Kau kesepian
Kau
berbicara dengan mereka
Tapi
tak seorangpun Kau kenal
Kau
seperti membohongi dirimu sendiri
Kau
ganti kehidupan riil dengan semi riil
Mengacuhkan
ruang bebas yang terhampar dihadapanmu
dan
Kau memilih menutup pintu lalu membuka laptop
Apa
teman nyata sudah terlihat membosankan?
Setiap
waktu Kau disibukkan untuk merangkai kata
Sampai
terlihat hidupmu indah dimata mereka
Namun
Kitapun tak tau apa mereka perduli
Tak
ada yang bisa Kau lakukan
Kecuali
menggerakkan jari ketas kebawah
Melihat
aktivitas yang dilakukan orang lain
Atau
menceritakan ratusan kejadian dalam hidupmu pada “mereka”
Bagaimana
kita bisa memberikan bagian terbaik hidup kita tanpa menggunakan
perasaan
Semua
itu takkan berhenti sampai ada hajat yang membuatmu terpaksa berhenti
dan
ketika tersadar, Kau berada dalam dunia yang membingungkan!
Perhatianlah
pada temanmu, maka mereka akan perhatian padamu
Kunjungilah
temanmu, jangan berdiskusi dengan mereka di chat
Karna
mereka takkan mengunjungimu
Alihkanlah
layar kaca dan tataplah lawan bicara
Aku
tak tahan melihat kehenigan pada sebuah perkumpulan
Ada
seseorang, diantara temannya hanya Dia yang tak memiliki smartphone
Tapi
semua orang sibuk berbicara pada dunia digitalnya lewat ketikan
bunyi-bunyi
balasan message pun terdengar riuh
Ia
pun merasa kesepian, Ia segan ingin menegur dan bertanya
karna
takut dianggap tidak sopan
memecahkan
keheningan dan menghentikan laju jari jemari mereka
Hey...teknologi
ada, untuk membantu bukan membatasi
Ilusi
itu telah membuat dekat yang jauh, dan menjauhkan yang dekat
Saat
masih sekolah SD dan SMP, Jam istirahat Aku tidak pernah dikelas
Hanya
pada saat jam pelajaran saja berada dikelas
Begitu
juga dengan teman-teman
Jika
terpaksa berada dikelaspun kaki ini tak pernah diam dan mulutpun tak
ternah diam
Karna
saking sibuknya bercanda, berlarian dan menggoda teman yang lain
Tempat
dudukku pun jarang Aku tempati
Karna
Aku lebih suka duduk dibangku orang lain dan begitupun teman-temanku
Ketika
berkumpul, kami banyak menciptakan permainan-permainan konyol
dikelas. Meskipun begitu Kami tetap patuh pada guru-guru kami. Begitu
juga saat jam istirahat, kami tidak pernah berpenampilan rapih ketika
kembali ke kelas usai istirahat.
Tapi
kini, apa yang disapa oleh anak-anak ketika menunggu guru yang belum
datang?
Apa
yg dikeluarkan pertaman kali dari kantong saku mereka ketika jam
istirahat tiba?
Memang
semua tidak begitu, tapi sadarkah yang tidak itu pun perlahan
mengikuti?
Lihatlah
orang tua-orang tua yang katanya modern
Mereka
tidak bisa menghibur anak tanpa menggunakan iPad
Mereka
pikir anak berdiam diri itu bagus
Ingatkah
waktu kita kecil? Kita tak pernah diam dirumah
bersepeda,
berlari sampai melakukan hal menyenangkan yang orang tua pikir itu
berbahaya.
Sendalku
copot, lututku lecet saking energiknya bermain. bahkan pernah sampai
tercebur diselokan, tapi meskipun itu kita tak mudah menangis.
Hidup
indah padahal tak ada keberadaan barang-barang mewah. Dengan
ketangkasan kita, permainan dapat kita ciptakan dan dapatkan,
Namun
kini gang-gang sepi dari keceriaan
Dan
Aku juga tak tahan melihat kehenigan didalam angkutan umum
semua
diam karna takut dibilang aneh jika bertegur sapa
hmm..
Individualis
Padalah
sekitar 7 tahun lalu, orang tak segan menyapa orang lain didalam
angkutan umum, bertanya-tanya “Dari
mana de?, Mau mau kemana de?”.
Begitulah seorang ibu menyapaku waktu itu, yang ternyata adalah
saudaraku sendiri yang tidak pernah kukenal. Pada saat itu kami
tengah menaiki angkutan Bogor. “Mau
ke Jakarta bu, kerumah sodara?”,
Jawaban dariku itu lantas melebarkan pertanyaan si Ibu selanjutnya,
Merasa tinggal berada di Kota yang sama, Ibu itu merunut
pertanyaannya sampai ke daerah mana yang Aku tinggali, setelah
kujawab ternyata sama lagi daerah kami. “Jangan-jangan
Dia tetangga nih disana, cuma beda gang saja”
mungkin seperti itu Aku membaca pikiran si Ibu ketika itu. Dan bak
mempunyai kecurigaan seperti itu, Dia bertanya “Siapa
orang masjidnya disana?” maksudnya
orang yang suka kemasjid pasti dikenal disana. Lalu Aku sebutkan nama
kakekku, eh ternyata si Ibu dan suaminya tertawa dan bilang “Itu
sodara Saya de”. Haha, ya itulah alhasil dari bertegur sapa.
Kau
takkan menemukan semua itu jika terpaku pada dunia digital adalah
hal yang tidak bisa Kau lepaskan. Memenjarakan diri dalam sebuah
digital
Berhentilah
selalu menundukkan kepala, selalu memusatkan perhatian pada apa yang
ada digenggaman tanganmu
Janganlah
hidup sendiri didepan umum, Kau akan banyak melewatkan waktu berharga
Bisa
jadi Kau terhambat menemukan masa depanmu karenanya. Padahal Dia
lewat didepanmu namun Kau tak menyadari karna selalu sibuk
menundukkan kepala. Kau akan melewati berbagai kebahagiaan yang akan
Kau lalui bersamanya. Disaat Kau ingin memulai sebuah keluarga.
Matikanlah
layar dan buatlah hari yang indah
Karena
dunia akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukannya
Waktu
kita sangat terbatas
Bergabunglah
dengan persahabatan yang riil, komunitas yang riil dan ambil ilmu
sebanyak-banyaknya
Karna
dunia yang kosmopolitan ini perlu ditaklukan olehmu.


" />
Tidak ada komentar:
Posting Komentar