sebagai yang sama-sama mempunya waktu luang, Aku dan beberapa temanku memutuskan untuk pergi ketempat yang biasa kita jadikan sebagai tempat untuk rehat dari kehidupan perumahan. Kebetulan tempat itu ga jauh-jauh banget dari perumahan kami. Itu adalah suatu tempat yang istimewa bagi kami. Tempat itu bukan warkop, kedai, apalagi cafe, yang lazim dipakai nongkrong. Melainkan tempat itu adalah sebuah gubuk milik seorang warga yang biasa ia pakai untuk mengawasi burung-burung pemakan padi ketika panen padi tiba, yang letaknya dihimpit antara bentangan sawah dan ladang warga.
Betulkan, tempat yang ga banyak dilirik oleh anak-anak muda sekarang walau anak kampung sekalipun.
Berlalulah kami menuju tempat itu sambil menenteng-nenteng bekal yang dikenal ampuh untuk menyempurnakan suasana obrolan nanti, apalagi kalau bukan kopi dan snak-snak ringan yang sebagian kami beli diwarung yang kami jumpai ketika kami menuju tempat tersebut.
Dan ketika sampai di tempat istimewa tersebut -sungguh ketika pertama melihat suasana tempat itu bagai ada silau cahaya yang mengenai matamu lalu cahaya itu memudar dan menunjukkan apa yang ada dibaliknya-. Yang tadinya kami berjalan diatas aspal dan hembusan debu jalan, kini berganti menjadi rerumputan ladang dan hembusan angin segar serta ditambah dengan kehidupan hewan-hewan kecil. Hatiku berkata "Ya Alloh 'Azza wa Jalla, surgamu yang ada didunia ini saja sudah indah, apalagi surgamu yang diakhirat sana".
Dengan berjalan dan beberapa kali melompat dan melompat diatas jalan-jalan khas sawah, kamipun samapai ketempat istimewa itu. Duduklah kami sejenak untuk mengatur nafas -maklum medan jalannya lumayan juga-. Tapi inilah salah satu usaha kami untuk Tafakur Alam (merenungi & memahami alam).
Diskusipun dimulai dengan sebuah curhatan dari temanku. Dia -bisa dibilang- orang asli sini (Cilebut) dan banyak menyaksikan langung perubahan-perubahan yang terjadi pada tempat-tempat yang ada di lintas Cilebut ini. Mulai dari kebon-kebonnya, sawah-sawahnya, tanha-tanahnya sampai keperumahan-perumahan nan luasnya. Dia bercerita sembari memberi isyarat dengan tangannya -Aku tahu sekali banyak uneg-uneg didadanya yang ingin Ia tumpahkan dipertemuan kita kala itu-.
Ia bercerita bahwa dulunya perumahan tempat kami itu adalah rawa tempat bermainnya. Rawa dengan banyak keberkahannya. Setiap hari Ia bersama rombongan temannya melewati rawa itu. Terdapat air yang jernih, ikan yang banyak dan buah disana -sungguh kebahagiaan jika saat kecil bisa menikmati dan menemui hal-hal seperti itu-. Tapi semua itu tidak lam Ia rasakan, karena sampai pada akhirnya juga monster besi datang dan menggilas semua itu. hari demi hari kesediahan pun semakin menumpuki dadanya mengingat rawa itu akan segera pergi.
Mungkin bagiku yang lahir dan tumbuh di Jakarta yang terbiasa dengan suasana beraspal dsb sebagai tempat bermain tidak akan terlalu sedih jika lahan-lahan bermainku berganti dengan tempat-tempat futsal berbayar yang sudah cukup mahal atau gedung-gedung lainnya. Tapi bagi orang yang masa kecilnya selalu hidup berdampingan dengan hijaunya dan sejuknya alam lalu secara tiba-tiba semua itu berganti dengan rumah-rumah dengan orang-orangnya -yang ada diantara mereka kami saksikan sendiri- membuang limbah sembarangan, ada yang ke empang, ke kebon. Pasti itu adalah rasa sedih yang bertambah-tambah.
Dengan terpaan angin yang selalu meniup berulang kali menambah kenyamanan obrolan. Obrolanpun berlanjut, Aku memberitahukan bahwa tanah lapang yang ada disebrang jalan antara Jl.Jembatan III dan Jl.Jembatan II rupanya sudah rata dengan tanah -padahal jalan itu panjang dan lebar-. Timbullah pertanyaan dihatiku "berapa anak lagi yang akan bernasib sama dengan temanku ini. kehilangan si penyejuk mata".
sebenarnya kami tidak membenci mereka-mereka yang membangun itu. Tapi apakah tidak ada cara lain untuk mencari uang dengan tidak menghilangkan sisi keasrian suatu daerah.
Akupun teringat kata-kata seorang cendekia
Ketika pohon terakhir sudah kita tebang,
Ketika sungai terakhir sudah tercemar dan
Ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap,
pada saat itu kita baru akan sadar bahwa uang tak bisa kita makan.
Akupun sadar bahwa alam adalah makhluk hidup. Angin yang meniup kami dari tadi seakan berbicara "tetaplah tinggal dan saksikan oleh kalian kami ini indah dan tolong jaga kami dengan sebaik mungkin karena kami adalah titipan Rabb untuk kalian". Dan untuk temanku "baiklah Aku mengerti, seberapapun Kau bercerita tidak akan bisa memindahkan kesedihan dalam dadamu itu pada kami". Lalu kami pulang dengan membawa beberapa pelajaran. Tapi sembari jalan sebenarnya Aku berpikir dan memperhatikan apa yang kami lakukan tadi dan mencoba melihat beberapa pemuda yang melalaikan waktu diluar sana. Kami saja yang cuma nongkrong digubuk mampu berbicara tentang nilai filosofis alam serta beberapa ide, dan yang lainnya. Lalu untukmu, apa yang Kau bicarakan ketika duduk dikedai-kedai bergengsi? apakah sekedar rencana untuk mengadakan party nanti malam ataukah membicarakan gejet-gejet yang baru nongol dalam pameran. Apakah Kau berbangga dengan cara demikian?
Apa yang kami lakukan ini (Tafakur Alam),
tidaklah lain sebagai simbol kemesraan kita dengan alam.
Lebih dari itu, untuk membangun interaksi antara kami dan dirimu
yang kian hari kian terasingi satu sama lain
Mari tinggalkan obrolan yang membunuh, yang membuat waktumu mati.
Dan TV, yang semakin hari semakin menjauhkan kita dengan realita.
Matikan sebentar atau selamanya.
Hadapkanlah perhatian dialam yang tak ramah lagi ini,
yang selalu mengharap dan mengharap penjagaan dari kita.
Betulkan, tempat yang ga banyak dilirik oleh anak-anak muda sekarang walau anak kampung sekalipun.
Berlalulah kami menuju tempat itu sambil menenteng-nenteng bekal yang dikenal ampuh untuk menyempurnakan suasana obrolan nanti, apalagi kalau bukan kopi dan snak-snak ringan yang sebagian kami beli diwarung yang kami jumpai ketika kami menuju tempat tersebut.
Dan ketika sampai di tempat istimewa tersebut -sungguh ketika pertama melihat suasana tempat itu bagai ada silau cahaya yang mengenai matamu lalu cahaya itu memudar dan menunjukkan apa yang ada dibaliknya-. Yang tadinya kami berjalan diatas aspal dan hembusan debu jalan, kini berganti menjadi rerumputan ladang dan hembusan angin segar serta ditambah dengan kehidupan hewan-hewan kecil. Hatiku berkata "Ya Alloh 'Azza wa Jalla, surgamu yang ada didunia ini saja sudah indah, apalagi surgamu yang diakhirat sana".
Dengan berjalan dan beberapa kali melompat dan melompat diatas jalan-jalan khas sawah, kamipun samapai ketempat istimewa itu. Duduklah kami sejenak untuk mengatur nafas -maklum medan jalannya lumayan juga-. Tapi inilah salah satu usaha kami untuk Tafakur Alam (merenungi & memahami alam).
Diskusipun dimulai dengan sebuah curhatan dari temanku. Dia -bisa dibilang- orang asli sini (Cilebut) dan banyak menyaksikan langung perubahan-perubahan yang terjadi pada tempat-tempat yang ada di lintas Cilebut ini. Mulai dari kebon-kebonnya, sawah-sawahnya, tanha-tanahnya sampai keperumahan-perumahan nan luasnya. Dia bercerita sembari memberi isyarat dengan tangannya -Aku tahu sekali banyak uneg-uneg didadanya yang ingin Ia tumpahkan dipertemuan kita kala itu-.
Ia bercerita bahwa dulunya perumahan tempat kami itu adalah rawa tempat bermainnya. Rawa dengan banyak keberkahannya. Setiap hari Ia bersama rombongan temannya melewati rawa itu. Terdapat air yang jernih, ikan yang banyak dan buah disana -sungguh kebahagiaan jika saat kecil bisa menikmati dan menemui hal-hal seperti itu-. Tapi semua itu tidak lam Ia rasakan, karena sampai pada akhirnya juga monster besi datang dan menggilas semua itu. hari demi hari kesediahan pun semakin menumpuki dadanya mengingat rawa itu akan segera pergi.
Mungkin bagiku yang lahir dan tumbuh di Jakarta yang terbiasa dengan suasana beraspal dsb sebagai tempat bermain tidak akan terlalu sedih jika lahan-lahan bermainku berganti dengan tempat-tempat futsal berbayar yang sudah cukup mahal atau gedung-gedung lainnya. Tapi bagi orang yang masa kecilnya selalu hidup berdampingan dengan hijaunya dan sejuknya alam lalu secara tiba-tiba semua itu berganti dengan rumah-rumah dengan orang-orangnya -yang ada diantara mereka kami saksikan sendiri- membuang limbah sembarangan, ada yang ke empang, ke kebon. Pasti itu adalah rasa sedih yang bertambah-tambah.
Dengan terpaan angin yang selalu meniup berulang kali menambah kenyamanan obrolan. Obrolanpun berlanjut, Aku memberitahukan bahwa tanah lapang yang ada disebrang jalan antara Jl.Jembatan III dan Jl.Jembatan II rupanya sudah rata dengan tanah -padahal jalan itu panjang dan lebar-. Timbullah pertanyaan dihatiku "berapa anak lagi yang akan bernasib sama dengan temanku ini. kehilangan si penyejuk mata".
sebenarnya kami tidak membenci mereka-mereka yang membangun itu. Tapi apakah tidak ada cara lain untuk mencari uang dengan tidak menghilangkan sisi keasrian suatu daerah.
Akupun teringat kata-kata seorang cendekia
Ketika pohon terakhir sudah kita tebang,
Ketika sungai terakhir sudah tercemar dan
Ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap,
pada saat itu kita baru akan sadar bahwa uang tak bisa kita makan.
Akupun sadar bahwa alam adalah makhluk hidup. Angin yang meniup kami dari tadi seakan berbicara "tetaplah tinggal dan saksikan oleh kalian kami ini indah dan tolong jaga kami dengan sebaik mungkin karena kami adalah titipan Rabb untuk kalian". Dan untuk temanku "baiklah Aku mengerti, seberapapun Kau bercerita tidak akan bisa memindahkan kesedihan dalam dadamu itu pada kami". Lalu kami pulang dengan membawa beberapa pelajaran. Tapi sembari jalan sebenarnya Aku berpikir dan memperhatikan apa yang kami lakukan tadi dan mencoba melihat beberapa pemuda yang melalaikan waktu diluar sana. Kami saja yang cuma nongkrong digubuk mampu berbicara tentang nilai filosofis alam serta beberapa ide, dan yang lainnya. Lalu untukmu, apa yang Kau bicarakan ketika duduk dikedai-kedai bergengsi? apakah sekedar rencana untuk mengadakan party nanti malam ataukah membicarakan gejet-gejet yang baru nongol dalam pameran. Apakah Kau berbangga dengan cara demikian?
Apa yang kami lakukan ini (Tafakur Alam),
tidaklah lain sebagai simbol kemesraan kita dengan alam.
Lebih dari itu, untuk membangun interaksi antara kami dan dirimu
yang kian hari kian terasingi satu sama lain
Mari tinggalkan obrolan yang membunuh, yang membuat waktumu mati.
Dan TV, yang semakin hari semakin menjauhkan kita dengan realita.
Matikan sebentar atau selamanya.
Hadapkanlah perhatian dialam yang tak ramah lagi ini,
yang selalu mengharap dan mengharap penjagaan dari kita.
" />
Tidak ada komentar:
Posting Komentar