Senin, 04 Mei 2015

Valentine's Day = Zina Internasional | Edisi 1 tahun I

Pengamatan sederhana sebenarnya sudah cukup untuk memperlihatkan tentang bagaimana runtuhnya norma-norma yang terjadi pada banyak masyarakat barat. Namun berkat alat penyadap (media) menjadikna semua realitas itu pudar seolah tak pernah terdengar. Asalkan kita tidak terderdaya oleh slogan manisnya yang menyesatkan. Yang selama ini berusaha dipaksakan oleh para pengusungnya (kaum orientalis) kepada masyaratak khususnya di Indonesia.

Lalu entah apa yang membuat generasi muda kita sekarang lebih dikenal dengan generasi yang latah. Terlalu agresif pada pasar hingga lupa untuk memilahnya. Termasuk produk budaya.
Adakah diluar sana muda-mudi yang dapat menjelaskan hakekat Valentine's Day yang setiap tahun Ia peringati dengan pasangannya.

Menurutku terlalu naif sebagai orang Indonesia dengan budaya timurnya yang punya sejuta budaya yang sarat dengan kearifan dan keluhuran adab, masih memerlukan Valentine's Day yang cuma berlangsung satu hari itu.

Budaya saling sayang menyayangi sesungguhnya sudah ada pada diri bangsa Indonesia yang telah dicontohkan oleh para leluhurnya dengan kaidah-kaidah yang betul nan indah. Dan tidak keluar dari koridor adab yang malah justru menimbulkan problema baru. Tidak selayaknya barat yang memang mereka butuh pada suatu hari yang memngingatkan mereka untuk berkasih sayang. Maka wajar apabila mereka melakukannya, mengingat cara berutinitas mereka berbeda dengan kita. Jika di Indonesia mempunyai jargon gotong-royong yang akan menimbulkan rasa kekeluargaan dalam satu kampung atau bahkan satu negri, atau kasih sayang anak kepada ayahnya yang diwujudkan dalam bentuk simbol cium tangan dll. Apakah budaya barat memiliki itu semua? bahkan diantara mereka ada yang tidak merasakan sama sekali apa yang namanya kehangatan dalam keluarga, mereka lebih cinta rutinitas. Bayangkan dalam sebuah keluarga hampir tidak pernah terjadi tegur sapa, orang-orang didalam rumah berlalu lalang begitu saja tanpa ada ucapan salam atau jenis berpamitan yang lainnya seperti yang ada di Indonesia. Maka dibuatlah film-film yang mencontoh dari film drama Korea yang mana itu adalah kegagalan realita yang filmkan kearah sebaliknya,misal: ketika seorang cowok gagal memperistri seorang cewek maka itu akan difilmkan kearah sebaliknya atau film tentang polisi-polisi yang kuat karna realitanya adalah banyak tindak kriminal dinegara mereka.

Banyak sekali dari mereka yang tidak tahu apa itu makna kasih sayang. Mereka hanya mengartikannya sebagai seks, tidak lebh. Jadilah hari merindukan ksih sayang itu diperingati dalam bentuk dalam bentuk Valentine's Day yang sarat dengan paham-paham tertentu. Dan apakah benar Valentine's Day itu merupakan hari kasih sayang? dengarkan penjelasan dari Hj. Irena Handono (mantan biarawati yang sekarang menjadi Da'i) hafidzahullah.

Siapakah Valentine?
Tidak ada kejelasan, siapakah sesungguhnya yang bernama Valentine. Beragam kisah dan semuanya hanyalah dongeng tentang sosok Valentine ini. Tetapi setidaknya ada tiga dongeng yang umum tentang siapa Valentine.

Pertama, St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Eksekusi yang didapatnya ini karena perbuatannya yang menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi, yang hal tersebut justru dilarang. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.

Kedua,  Valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.

Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.

Ucapan ”Be My Valentine”

Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!


Tradisi penyembah berhala

Sebelum masa kekristenan, masyarakat Yunani dan Romawi  beragama pagan yakni menyembah banyak Tuhan atau Paganis-polytheisme. Mereka memiliki perayaan/pesta yang dilakukan pada pertengahan bulan Pebruari yang sudah menjadi tradisi budaya mereka. Dan gereja menyebut mereka sebagai kaum kafir.

Di zaman Athena Kuno, tersebut disebut sebagai bulan GAMELION. Yakni masa menikahnya ZEUS dan HERA. Sedangkan di zaman Romawi Kuno, disebut hari raya LUPERCALIA sebagai peringatan terhadap Dewa LUPERCUS, dewa kesuburan  yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba.

Perayaan ini berlangsung dari 13 hingga 18 Pebruari, yang berpuncak pada tanggal 15. Dua  hari pertama (13-14 Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata. Di masa ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Love Lottery/Lotre pasangan, di mana para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah bejana kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Seiring dengan invasi tentara Roma, tradisi ini menyebar dengan cepat ke hampir seluruh Eropa.

Hal ini menjadi penyebab sulitnya penyebaran agama Kristen yang saat itu tergolong sebagai agama baru di Eropa. Sehingga untuk menarik jemaat masuk ke Gereja maka diadopsilah perayaan kafir pagan ini dengan memberi kemasan kekristenan. Maka Paus Gelasius I pada tahun 469 M mengubah upacara Roma Kuno Lupercalia ini menjadi Saint Valentine's Day.

Ini adalah upaya Gelasius menyebarkan agama kristen melalui budaya setempat. Menggantikan posisi dewa-dewa pagan dan mengambil St Valentine sebagai sosok suci lambang cinta. Ini adalah bentuk sinkretisme agama, mencampuradukkan budaya pagan dalam tradisi Kristen. Dan akhirnya diresmikanlah Hari Valentine oleh Paus Gelasius pada 14 Februari di tahun 498.

Bagaimanapun juga lebih mudah mengubah keyakinan masyarakat setempat jika mereka dibiarkan merayakan perayaan di hari yang sama hanya saja diubah ideologinya. Umat Kristen meyakini St  Valentino sebagai pejuang cinta kasih. Melalui kelihaian misionaris, Valentine’s Day dimasyarakatkan secara internasional.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari tradisi masyarakat di zaman Romawi Kuno, masyarakat kafir yang menyembah banyak Tuhan juga berhala. Dan hingga kini Gereja Katholik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya St Valentine. Meskipun demikian perayaan ini juga dirayakan secara resmi di Gereja Whitefriar Street Carmelite di Dublin-Irlandia.

Valentine di Indonesia
Valentine’s Day disebut Hari Kasih Sayang, disimbolkan dengan kata LOVE. Padahal kalau kita mau jeli, kata kasih sayang dalam bahasa inggris bukan love tetapi Affection. Tapi mengapa di negeri-negeri seperti Indonesia dan Malaysia,  menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Ini penyesatan.

Makna LOVE sesungguhnya adalah sebagaimana sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi Valentine’s Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah Hari Raya Seks Bebas(Hj.Irena Handono | kajianirenahandono.blogspot.com).
Dan pada kenyataannya tradisi seks bebas inilah yang berkembang saat ini di Indonesia. Padahal di Eropa sendiri tradisi ini mulai ditinggalkan. Malah masyarakat timurlah yang justru merayakannya.

Budaya timur, yakni budaya Indonesia adalah budaya yang jauh diatas budaya seperti itu, dalam perspektif nilai moral.
Lalu timbul pertanyaan, kenapa barat maju sedangkan Indonesia tertinggal?
Jawabannya tidak lain karena keduannya sama-sama meniggalkan budayanya. Barat maju karena meniggalkan budayanya.
Sedangkan kita terbelakan karena meniggalkan budaya yang arif dan memungut budaya yang sudah dibuang.
Pernahkah kita berfikir kenapa orang-orang asing bisa suka dengan budaya Indonesia. Dan ramai-ramai mempelajarinya, sampai-sampai negara tetangga selalu mengupayakan celah untuk mengklaimnya?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a

 photo aawawaw_zps0l5gj5mx.png" />