Minggu, 03 Mei 2015

APA ITU ZINE ? (bagian1) | Edisi 1 tahun I

Mari kita bahas, Ya sesuatu yang ada ditangan kalian ini. Habis membolak-balik benda ini lalu bertanya "Apaan sih Zine ini?, gini doang sih gue juga bisa". Oke Saya percaya itu tapi ijinka Saya perkenalkan dulu benda yang satu ini.
     Ini sebuah media yang tidak lazim bagi mereka yang terbiasa dengan mainstream. Terlepas dari kepentingan komersil dan bukan berarti muatannya selalu berskala kecil. Mungkin bagi yang sudah mendengar, melihat atau membuatnya akan lantas membaca, namun bagi yang belum melihat bahkan mengenalnya akan lantas bertanya-tanya. Oleh karena itu pembahasan disini akan dikhususkan bagi yang baru mengenal bahkan melihatnya.

     Zine adalah sebuah media alternatif yang akan mengajari para makernya untuk produktif, karena mereka menggunakan setiap kemungkinan yang ada untuk mewujudnkan apasaja yang ada dalam kepala mereka. Tapi fisik Zine hanyalah ada hawa panas, kerana ia lahir dari mesin fotokopi Berbeda dengan majalah yang bisa tampil glossy sekaligus wangi yang ada di luar sana. Yang hanya akan mendudukan pembacanya dalam posisi tidak lebih dari konsumen seraya berkata "Ayolah, kau akan tampak keren jika memakai ini".
      Ini untuk mereka yang telah bosan dengan klaim media sebagai yang paling tahu tentang diri kita, apa yang pantas untuk kita pakai, apa yang cocok untuk kita makan dan apa yang suka untuk kita belanjakan. Menipu yang bisa ditipu, yang mendorong-dorong sebagian orang kedalam jurang kosumerisme sehingga larutlah orang itu dalam tuntunan media komersil.

      Disamping itu sungguh benda ini bak perayaan dalam kebebasan bermedia, sebagaimana yang coba dilakukan oleh para pendahulu Zinemaker. Di tahun 1930-an mereka membuat zine fiksi ilmiah yang dari situ mereka berbagi dan bertukan informasi. Sampai akhirnya terbentuklah skup yang mengawali eksistensi zine. Membagi yang bisa dibagi, berbagi hobi diantara mereka sampai bermunculanlah zinr-zine baru dengan scene yang berbeda pula -mungkin butuh pembahasan khusus mengenai sejarah zine, Insya Alloh akan dibahas dalam edisi selanjutnya-. Zine mampu menghidupkan budaya menulis dan membaca yang tak hanya menjadi korban dari hegemoni konsumerisasi sebagaimana yang terjadi dewasa ini.
      Para pembuat zine menganggap, budaya konsumerisasi adalah kanker yang akut, ia begitu mengerikan. Jika akut, akan menjalar keseluruh tubuh dan memaksa tubuh untuk datang rumah sakit perbelanjaan sampai egonya itu sembuh. ini adalah imaji-imaji konsumerisme.

      zine dalah jalan untuk menghidupkan kembali kultur yang telah mati, bahasan zine bisa dipengaruhi oleh apa yang ada disekitar pembuatnya, mungkin keresahan, wawasan atau suasana perasaan dan ia tidaklah terikat oleh syarat dan prasyarat baku yang sudah digariskan oleh mereka-mereka. karenanya semua orang bisa membuat zine. inilah zine kawan, benda ini bak perayaan kebebasan berseni, berkarya dan bermedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a

 photo aawawaw_zps0l5gj5mx.png" />